Rahasia Dibalik Psikotes Yang Wajib Anda Tahu

Apa itu psikotes? Psikotes atau lebih dikenal dengan Tes Psikologi (Psychological Test) menjadi  hal yang sangat misterius bagi lulusan baru maupun anda yang sudah berkali-kali gagal mengikuti tes ini. Banyak yang pasrah terhadap keberuntungan saat berhadapan dengan psikotes.

Banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak anda seputar psikotes yang tidak pernah terjawab baik oleh perusahaan tempat anda melamar maupun para ahli psikotes itu sendiri. Area abu-abu inilah yang sengaja dibiarkan oleh psikolog untuk memudahkan pihak perusahaan dalam melakukan justifikasi terhadap hasil psikotes calon karyawan.

Jika anda lulusan universitas paling terkenal sekalipun bukanlah sebuah faktor penentu lulus atau tidaknya dari psikotes. Begitulah yang saya alami selama beberapa kali mengikuti psikotes di berbagai perusahaan besar.

Peserta Ujian Psikotes
Peserta Ujian Psikotes

Inilah beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan para calon pegawai setiap kali menghadapi psikotes yang telah saya rangkum, berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti seleksi penerimaan pegawai, baik di perusahaan perbankan, perusahaan swasta nasional, ataupun perusahaan BUMN.

  1. Apa saja jenis psikotes penerimaan pegawai? Pada umumnya ada 11 jenis tes dalam rangkaian tes psikotes, yaitu Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal, Kreaplien/Pauli Test, Wartegg Test, Draw A Man Test (DAM Test), Army Alpha Intelegence Test, Baum Test (Tree Test/Menggambar Pohon), Edwards Personal Preference Shedulue (EPPS), Adkudag V, Pasangan & Deret Gambar
  2. Dari ke 11 model psikotes, mana yang paling berpengaruh/tinggi pointnya? Tidak ada skala prioritas pada model psikotes, semua memiliki bobot penilaian yang sama. Jadi alangkah baiknya jika Anda tidak ‘menganaktirikan’ atau ‘menganakemaskan’ model psikotes tertentu saat proses pengerjaannya.
  3. Apakah psikotes bisa dipelajari? Tidak ada suatu hal yang tidak bisa dipelajari, termasuk psikotes. Mengapa? Karena soal psikotes dari tahun ke tahun adalah sama, dan setiap institusi menggunakan sumber yang sama, yaitu materi psikotes dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Anda hanya cukup meluangkan waktu sejenak untuk berlatih mengerjakannya dengan tepat (jika perlu dihapal). Memang, untuk model Kreaplien/Pauli Test dan Army Alpha Intelegence Test tidak bisa dihapal dan hanya bisa diukur pada saat tes berlangsung, karena faktor mental dan ketahanan konsentrasi dari peserta psikotes memegang peran penting dalam model psikotes ini.
  4. Apakah psikotes mengenal Benar dan Salah? Untuk model psikotes tertentu seperti Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal, Army Alpha Intelegence Test dan Adkudag V, dan Pasangan & Deret Gambar, Anda dituntut untuk menjawab dengan benar soal sebanyak-banyaknya. Namun, untuk model psikotes Kreaplien/Pauli Test, Wartegg Test, Draw A Man Test (DAM Test), dan Baum (Tree Test), tidak ada benar dan salah terhadap jawaban Anda. Yang ada hanyalah kesesuaian jawaban Anda (yang mencerminkan potensi Anda) dengan posisi/jabatan yang ditawarkan perusahaan.
  5. Apakah psikotes berdampak besar terhadap suatu pekerjaan yang digelutinya? Tujuan dari psikotes adalah untuk mengetahui potensi yang dimiliki calon pegawai agar sesuai dengan posisi/lowongan jabatan yang dibutuhkan perusahaan. Sebenarnya Divisi Human Resource Development (HRD) Perusahaan atau Tester sudah bisa membaca karakter dari calon pegawainya yang tercermin dari hasil psikotes, dan bisa memutuskan dimana posisi yang tepat untuk calon pegawainya tersebut. Misalnya, untuk lowongan posisi Marketing di sebuah Bank, HRD membutuhkan calon pegawai yang pandai berkomunikasi, menyukai tugas lapangan, dan bisa bekerja dengan target. Maka seorang calon pegawai dengan hasil psikotes yang menunjukan bahwa ia introvelt (tertutup) dan tidak bisa bekerja dalam tekanan tidak mungkin ditempatkan pada posisi tersebut. Dan jika dipaksakan maka ia akan menjadi pekerja yang tidak produktif.
  6. Adakah hubungan Antara Psikotes dan EQ/IQ seorang calon pegawai? Dari 11 model psikotes tersebut di atas, 6 model (Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal, Kreaplien/Pauli Test, Army Alpha Intelegence Test , Deret Gambar) terkait dengan IQ Calon Pegawai khususnya kemampuan analitis dan 5 model (Wartegg Test, Draw A Man Test, Baum (Tree Test), Edwards Personal Preference Shedulue (EPPS), Adkudag V), terkait dengan EQ Calon Pegawai khususnya hubungan sosial.
  7. Kalau Psikotes berupa soal cerita itu untuk mengukur apa? Bagaimana penilaiannya? Psikotes berupa soal cerita biasanya disampaikan dalam 2 format yaitu jawaban tertulis dan jawaban lisan/verbal. Psikotes soal cerita dengan format jawab tertulis biasanya digunakan untuk menilai kemampuan analisa seorang calon pegawai terhadap suatu masalah. Sedangkan Psikotes soal cerita dengan format jawab lisan, yaitu pada sesi focus group discusion, digunakan untuk menilai kemampuannya sebagai seorang problem solver dan bagaimana ia mampu mengutarakannya dalam sebuah forum diskusi dengan baik.
  8. Untuk keperluan apa sajakah Psikotes tersebut? Tahap psikotes selalu dipergunakan pada seleksi penerimaan calon pegawai khususnya perusahaan perbankan (Posisi ODP Bank Mandiri, Posisi MDP Bank BCA, Posisi PPS Bank BRI, Posisi PPE Bank Niaga, Posisi ODP Bank Danamon, dan Semua Posisi Jabatan untuk Bank Pembangunan Daerah), Ujian Kenaikan Jabatan, Penerimaan Mahasiswa S2/S3 dan Seleksi Beasiswa.

Demikianlah rahasia di balik psikotes, temukan soal-soal psikotes lainnya pada ebook kami pada halaman utama blog ini. Semoga dapat mempermudah anda dalam menjalaninya.

download_gratis_soal_psikotes_pdf2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

51 ÷ 17 =

Share