Rahasia Psikotes (2)

Psikotes atau Tes Psikologi (Psychological Test) merupakan suatu hal yang dirasakan misterius bagi seorang calon pegawai. Sehingga mereka cenderung pasrah terhadap keberuntungan ketika berhadapan dengan psikotes.

Banyak pertanyaan yang ada di kepala para calon pegawai seputar psikotes yang tidak pernah terjawab baik oleh perusahaan dia melamar maupun para ahli psikotes sendiri. Area abu-abu ini memang sengaja dibiarkan oleh psikolog untuk memudahkan pihak perusahan dalam melakukan justifikasi terhadap hasil psikotes para calon pegawai.

Background perguruan tinggi unggulan dari calon pegawai juga bukan faktor penentu lolos tidaknya mereka dari psikotes. Pada awalnya, saya juga mengalami kesulitan saat menghadapi tahap psikotes dalam proses reqruitment calon pegawai di awal-awal masa mencari pekerjaan, namun seiring dengan berjalannya waktu dan ‘jam terbang’ yang semakin tinggi, maka lama-kelamaan psikotes akhirnya bisa menjadi ‘sahabat’ saya dan saya pun selalu percaya diri ketika mengerjakannya, karena saya sudah yakin akan selalu lolos.

Pengalaman inilah yang ingin saya share kepada rekan-rekan para calon pegawai lain agar memudahkan mereka dalam melaluinya. Berikut ini adalah jawaban dari frequent ask question (FAQ) atau beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan para calon pegawai setiap kali menghadapi psikotes yang telah saya rangkum, berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti seleksi penerimaan pegawai, baik di perusahaan perbankan, perusahaan swasta nasional, ataupun perusahaan BUMN.

1. Apa saja jenis psikotes penerimaan pegawai? Pada umumnya ada 11 jenis tes dalam rangkaian tes psikotes, yaitu Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal (baca: Soal Psikotes Analog Verbal : 40 Soal), Kreaplien/Pauli Test, Wartegg Test, Draw A Man Test (DAM Test), Army Alpha Intelegence Test, Baum Test (Tree Test/Menggambar Pohon), Edwards Personal Preference Shedulue (EPPS), Adkudag V, Pasangan & Deret Gambar.

2. Dari ke 11 model psikotes, mana yang paling berpengaruh/tinggi pointnya? Tidak ada skala prioritas pada model psikotes, semua memiliki bobot penilaian yang sama. Jadi alangkah baiknya jika Anda tidak ‘menganaktirikan’ atau ‘menganakemaskan’ model psikotes tertentu saat proses pengerjaannya.

3. Apakah psikotes bisa dipelajari? Tidak ada suatu hal yang tidak bisa dipelajari, termasuk psikotes. Mengapa? Karena soal psikotes dari tahun ke tahun adalah sama, dan setiap institusi menggunakan sumber yang sama, yaitu materi psikotes dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Anda hanya cukup meluangkan waktu sejenak untuk berlatih mengerjakannya dengan tepat (jika perlu dihapal). Memang, untuk model Kreaplien/Pauli Test dan Army Alpha Intelegence Test tidak bisa dihapal dan hanya bisa diukur pada saat tes berlangsung, karena faktor mental dan ketahanan konsentrasi dari peserta psikotes memegang peran penting dalam model psikotes ini.

4. Apakah psikotes mengenal Benar dan Salah? Untuk model psikotes tertentu seperti Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal, Army Alpha Intelegence Test dan Adkudag V, dan Pasangan & Deret Gambar, Anda dituntut untuk menjawab dengan benar soal sebanyak-banyaknya.

Namun, untuk model psikotes Kreaplien/Pauli Test, Wartegg Test, Draw A Man Test (DAM Test), dan Baum (Tree Test), tidak ada benar salah terhadap jawaban Anda. Yang ada hanyalah kesesuaian jawaban Anda (yang mencerminkan potensi Anda) dengan posisi/jabatan yang ditawarkan perusahaan.

5. Apa bedanya menjumlah dari bawah-atas dan atas-bawah pada Tes Kraeplien/Paulin? Tes Kreaplien/Paulin merupakan model psikotes yang terdiri atas deretan angka-angka, yang harus Anda jumlahkan dalam waktu tertentu.

Secara teknis, karena background saya bukan sebagai tester atau sarjana psikologi, melainkan hanya peserta psikotes yang memiliki sedikit pengalaman dalam mengerjakan soal-soal psikotes, maka yang bisa saya share adalah usahakan untuk selalu stabil dalam mengerjakan penjumlahan tersebut, jangan sampai selisih tinggi rendah lajur satu dengan lajur yang lainnya sangat jauh.

Usahakan semua bersifat rata-rata, jangan sampai menurun. Karena intinya, yang ingin diperoleh tester pada tes Kraeplien/Paulin adalah sejauh mana ketahanan mental Anda terhadap suatu kondisi atau sejauh mana Anda bisa bekerja dengan baik ketika berada di bawah suatu tekanan keadaan.

6. Bagaimana trik mengerjakan Tes Kreaplien/Paulin? 1) Jangan habiskan energi Anda pada saat-saat awal tes dimulai karena Tes Kreaplien/Paulin akan belangsung dalam waktu lama, yaitu sekitar 45 menit. Sehingga jika Anda terlalu terfokus di waktu awal, maka energi Anda akan berangsur-angsur habis dan berakibat menurunnya grafik penjumlahan Anda.

Misalnya di waktu awal tes Anda bisa menjumlahkan hingga 50 angka, namun di akhir masa tes Anda hanya bisa menjumlahkan hingga 20 angka. Hal ini bisa dibaca sebagai ‘Anda adalah calon pegawai yang kurang mampu bekerja dalam tekanan’. 2) Hindari menggunaan pensil mekanis saat mengerjakan tes model ini, melainkan gunakan pensil yang diraut 2 sisi atau gunakan ballpoint. Mengapa? Karena pada tes model ini, waktu sangatlah berharga. 2 detik yang Anda butuhkan untuk memanjangkan (reload) granit pada isi pensil mekanik, akan menghilangkan kesempatan Anda menjumlahkan 3-4 bilangan dalam deret Kreaplien/Paulin.

7. Bagaimana seharusnya mengerjakan Warteg Test? Warteg Test adalah sebuah tes menggambar yang terdiri atas delapan kotak dengan masing-masing kotak telah memiliki sebuah bentuk dasar tertentu seperti titik, garis kurva, 3 garis tegak sejajar, kotak hitam kecil, 2 garis memotong saling tegak lurus, 2 garis tegak lurus tidak memotong, 7 buat titik yang tersusun melengkung dan garis melengkung.

Tipsnya adalah:

  • Urutan menggambar sebaiknya Anda kombinasikan antara urut sesuai nomor dan acak. Misalnya urutan 1,2,3,4 kemudian dilanjut dengan 8,7,6,5. Ini cara paling aman untuk semua posisi jabatan yang ditawarkan dalam lowongan kerja. Karena apabila anda menggambar berdasarkan urutan 1,2,3,4,5,6,7,8 anda dipandang Divisi HRD sebagai orang yang kaku/konservatif. Penyelesaian model ini biasanya dibutuhkan untuk posisi jabatan pekerjaan rutin, menuntut ketelitian dan tidak membutuhkan improviasi. Sedangkan apabila anda menggambar secara acak misalnya 5,7,6,8,3,2,4,1 anda akan dipandang HRD sebagai orang yang terlalu kreatif dan inovatif. Penyelesaian model ini biasanya dibutuhkan untuk posisi jabatan pekerjaan yang membutuhkan kebebasan berkreasi, dan daya imaginasi tinggi. Sehingga apabila Anda mengguakan metode penyelesaian kedua saat melamar untuk posisi backoffice di Bank, maka Anda akan dinilai sebagai seorang yang susah fokus pada rutinitas dan cenderung sulit diatur atau ‘breaking the low
  • Kalau anda ber-gender lelaki jangan mulai dengan nomor 7, karena beberapa anggapan menyebutkan hal ini berpengaruh terhadap orientasi seks anda.

8. Apa yang harus saya gambar pada Draw A Man Test (DAM Test)? Tidak ada acuan khusus mengenai hal ini. Namun, berdasarkan beberapa informasi dan pengalaman saya, alangkah baiknya bila Anda bisa menggambarkan orang secara utuh (posisi badan menghadap ke depan) saat sedang beraktifitas, lengkap dengan penjelasan usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan.

9. Bagaimana mengerjakan psikotes menggambar pohon yang benar? Tidak ada acuan khusus mengenai hal ini. Namun, berdasarkan beberapa informasi dan pengelaman saya, sangat disarankan untuk menggambar pohon dengan cara dan kriteria sebagai berikut: komposisi dan ukuran yang proporsional terhadap bidang gambar, jenis pohon berupa tanaman berkambium atau dikotil/dycotil (misal: pohon nangka, pohon mangga), lengkap dengan akar, serat kayu, tangkai, ranting, buah dan daun-daun yang rimbun. Jika perlu Anda bisa mengambil foto pohon tertentu dan berlatih menggambarnya secara detil.

10. Bagaimana menjawab soal pada Edwards Personal Preference Shedulue (EPPS). Tes ini terdiri atas 225 soal dengan jawaban yang dikehendaki adalah yang paling sesuai dengan kepribadian Anda. Dari puluhan soal yang diajukan tersebut, beberapa diantaranya akan dimunculkan berulang, untuk meng-cross check kebenaran jawaban Anda.

EPPS digunakan untuk mengetahui 15 variable kepribadian seseorang, yaitu kemampuan berprestasi, kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan menunaikan tugas, kebutuhan menunjukkan diri, kebutuhan untuk mandiri, kebutuhan untuk berempati, kebutuhan perhatian terhadap sesama, kebutuhan akan hubungan hubungan sosial, keinginan untuk memimpin, keinginan untuk kompromi, kebutuhan memberikan perhatian, kebutuhan akan stimulasi dari luar, kemampuan menghadapi berbagai rintangan, kebutuhan memberikan perhatian terhadap lawan jenis dan kebutuhan untuk bertentangan dengan orang lain.

Terkadang Anda mungkin akan dipaksa memilih antara 2 hal yang buruk yang tidak pernah Anda lakukan, namun Anda harus menjawabnya. Misalnya: a) Saya suka menonton video porno dan b) Saya suka mengelakkan tanggung jawab dan kewajiban. Disini Anda harus menjawab ‘a’, karena memilih menyukai menonton video porno adalah masalah Anda dengan Tuhan, sedangkan mengelak dari tanggung jawab dan kewajiban akan berdampak pada produktifitas kerja perusahaan.

11. Apakah yang dimaksud dengan Adkudag V Test? Adkudag V merupakan salah satu model dari 11 jenis psikotes yang bertujuan menggali potensi dan wawasan pengetahuan umum dari calon pegawai. Pengerjaan soal psikotes model Adkudag V ini dibatasi oleh waktu, untuk itu, semakin cepat Anda mengerjakan soal per soal-nya maka semakin banyak soal yang dapat anda selesaikan yang otomatis memperbesar peluang Anda mendapatkan point/nilai yang semakin besar. Untuk lolos dan lancar dalam pengerjaan test ini, saya biasanya hanya membaca dan sedikit menghafalkan soal dan jawaban tersebut, semalam sebelum testing berlangsung. Karena pada dasarnya 40 soal ini tidak berubah dari tahun ke tahun.

12. Apakah psikotes berdampak besar terhadap suatu pekerjaan yang digelutinya? Tujuan dari psikotes adalah untuk mengetahui potensi yang dimiliki calon pegawai agar sesuai dengan posisi/lowongan jabatan yang dibutuhkan perusahaan.

Sebenarnya Divisi Human Resource Development (HRD) Perusahaan atau Tester sudah bisa membaca karakter dari calon pegawainya yang tercermin dari hasil psikotes, dan bisa memutuskan dimana posisi yang tepat untuk calon pegawainya tersebut. Misalnya, untuk lowongan posisi Marketing di sebuah Bank, HRD membutuhkan calon pegawai yang pandai berkomunikasi, menyukai tugas lapangan, dan bisa bekerja dengan target.

Maka seorang calon pegawai dengan hasil psikotes yang menunjukan bahwa ia introvelt (tertutup) dan tidak bisa bekerja dalam tekanan tidak mungkin ditempatkan pada posisi tersebut. Dan jika dipaksakan maka ia akan menjadi pekerja yang tidak produktif.

13. Adakah hubungan Antara Psikotes dan EQ/IQ seorang calon pegawai? Dari 11 model psikotes tersebut di atas, 6 model (Logika Aritmatika, Logika Penalaran, Analog Verbal, Kreaplien/Pauli Test, Army Alpha Intelegence Test , Deret Gambar) terkait dengan IQ Calon Pegawai khususnya kemampuan analitis dan 5 model (Wartegg Test, Draw A Man Test, Baum (Tree Test), Edwards Personal Preference Shedulue (EPPS), Adkudag V), terkait dengan EQ Calon Pegawai khususnya hubungan sosial.

14. Kalau Psikotes berupa soal cerita itu untuk mengukur apa? Bagaimana penilaiannya? Psikotes berupa soal cerita biasanya disampaikan dalam 2 format yaitu jawaban tertulis dan jawaban lisan/verbal.Psikotes soal cerita dengan format jawab tertulis biasanya digunakan untuk menilai kemampuan analisa seorang calon pegawai terhadap suatu masalah.

Sedangkan Psikotes soal cerita dengan format jawab lisan, yaitu pada sesi focus group discusion, digunakan untuk menilai kemampuannya sebagai seorang problem solver dan bagaimana ia mampu mengutarakannya dalam sebuah forum diskusi dengan baik.

15. Untuk keperluan apa sajakah Psikotes tersebut? Tahap psikotes selalu dipergunakan pada seleksi penerimaan calon pegawai khususnya perusahaan perbankan (Posisi ODP Bank Mandiri, Posisi MDP Bank BCA, Posisi PPS Bank BRI, Posisi PPE Bank Niaga, Posisi ODP Bank Danamon, dan Semua Posisi Jabatan untuk Bank Pembangunan Daerah), Ujian Kenaikan Jabatan, Penerimaan Mahasiswa S2/S3 dan Seleksi Beasiswa..

Sumber www.iniopiniku.com

download_gratis_soal_psikotes_pdf2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 30 = 38

Share